Wednesday, February 6, 2013

PARIS

Title : Paris
Author : Prisca Primasari
Publisher : Gagas Media
Pages : 224
Rate : 4/5


Carte Postale

Pembaca tersayang,

Dari Paris, sepotong kisah cinta bergulir, merupakan racikan istimewa dari tangan terampil Prisca Primasari yang sudah dikenal dengan reputasinya dengan karya-karya sebelumnya Eclair, Beautiful Mistake, dan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa.

Ini tentang sebuah pertemuan takdir Aline dan seorang laki-laki bernama Sena. Terlepas dari hal-hal menarik yang dia temukan dari diri orang itu, Sena menyimpan misteri, seperti mengapa Aline diajaknya bertemu di Bastille yang jelas-jelas adalah bekas penjara, pukul 12 malam pula? Dan mengapa pula laki-laki itu sangat hobi mendatangi tempat-tempat seperti pemakaman Pere Lachaise yang konon berhantu?

Setiap tempat punya cerita.
Dan inilah sepotong kisah cinta yang kami kirimkan dari Paris dengan perangko yang berbau harum.

Enjoy the journey,
Editor.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aline adalah seorang mahasiswa Indonesia di Paris, Pantheon-Sorbonne jurusan sejarah. Aline patah hati karena kepala Chef yang ditaksirnya, di tempat kerjanya-sebuah bistro Indonesia, malah berpacaran dengan rekan kerjanya yang jauh berbeda darinya. Ia memutuskan untuk cuti selama seminggu karena tidak tahan dengan kemesraan yang dipertontonkan si kepala Chef yang juga orang Indonesia, dan pacarnya. Saat sedang meratapi nasibnya di Jardin du Luxembourg, seorang petugas kebersihan taman memberikan pecahan porselen yang terlihat mahal itu kepadanya. Pecahan porselen itu kemudian disatukannya dan terlihat tulisan Aeolus Sena. Dari nama itulah ia mencari si empunya melalui internet, dan ia menemukan alamat emailnya. 


Mereka sepakat untuk bertemu di Bastille jam 12 malam. Namun, Sena tidak datang seperti perjanjian mereka. Hari berikutnya, Aline menunggu dengan kesal di Bastille karena Sena tak kunjung datang. Untung dia ditemani Kak Ezra, yang katanya juga sedang menunggu temannya. Sampai akhirnya Sena menghubunginya dan bilang kalau dia nggak bisa datang lagi. Hari ketiga, akhirnya mereka bertemu juga, di tempat yang sama. 
"Janji, saya akan berusaha untuk memenuhi semua permintaan kamu, La Belle Madamoiselle Sans Courage." Tangannya meraih tanganku, menggenggamnya hingga ikut ternoda darah. "Janji dengan darah, oui?" Matanya berkedip.


Sena berjanji untuk memenuhi tiga permintaan Aline karena sudah menjaga porselennya. Sehingga, dari perjanjian itu, Aline dan Sena sering jalan bersama ke tempat-tempat penuh misteri di Paris, kota paling romantis di daratan Eropa.

Permintaan pertama Aline..
"Saya ingin pulang ke Jakarta."
Aline merasa rindu dengan ibunya di Jakarta. Masalahnya, persediaan uangnya menipis dan jadwal kuliahnya setelah libur semester sangat padat sehingga tidak memungkinkan Aline untuk terbang ke Jakarta.

Permintaan kedua...
"Saya ingin dua orang itu putus!" sentakku. "Saya nggak peduli gimana caranya! Dua-duanya harus putus!"
Saat Sena mengantarkannya pulang, ia mendadak mampir ke Bistro Indonesia karena merasa lapar dan rindu masakan Indonesia. Sebelum Aline protes, Sena sudah menyeretnya masuk. Karena Tina tiba-tiba pergi, maka Claris meminta Aline untuk menggantikan Tina. Menjelang sore, tak sengaja Aline mendengar percakapan si kepala Chef dengan pacarnya. Hingga membuat ia benar-benar geram dan meminta Sena untuk membuat hubungan mereka putus.
"Sejak kenal Aline...," ujarnya, "Saya merasa ada warna lain dalam hidup saya. Selain biru." 
Ezra, tetangga Aline. Sesama orang Indonesia dan kuliah di kampus yang sama. Ezra yang biasanya menjadi teman curhatnya selain Servigne. Melalui Ezra, terkadang Aline baru bisa melihat sesuatu dengan sisi positifnya. Termasuk tentang kepribadiannya yang inferior dan membuat Aline kadang membenci dirinya sendiri. Hanya sebatas itulah hubungan Aline dan Ezra, sampai suatu ketika Aline dihadapkan pada kenyataan yang lain.

Kenyataan lain tentang Ezra dan juga Sena. Tentang hidup Sena yang serba misterius tapi selalu berhasil membuatnya khawatir. Tentang pilihan yang diambil Ezra. Tentang hidupnya yang selalu membuatnya bingung karena nasib buruknya; selalu dibanding-bandingkan dengan adiknya oleh Ayah, dihina oleh orang yang ia taksir, patah hati, sampai disuruh resign oleh Monsieur Borodin - bossnya di Bistro Indonesia.

So, bagaimana dengan hidup Aline selanjutnya? Dan dengan permintaan ketiga... Sisa permintaannya yang terakhir kepada Sena.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Here it is..


Ini kedua kalinya saya baca karya Prisca Primasari. Saya mulai jatuh cinta sama novelnya sejak baca novel duet gagas yang judulnya Beautiful Mistake. Duet nya Syefriana Khairil sama Prisca Primasari. Untuk novel Paris ini, formatnya seperti diary Aline.

Dibuka dengan pengantar diary nya yang dikirimkan kepada Sevigne Devereux yang tak lain adalah sahabatnya di Paris. Aline mulai menceritakan kisahnya dalam diary itu. Saya kagum sama format diary ini. Cetakannya vintage sekali. Keliatannya sudah cukup usang dan sangat lama, memberikan kesan seolah-olah kita benar-benar sedang membaca diary Aline. Whoaa, keren banget. Di balik covernya juga ada sebuah postcard yang gambarnya menara eiffel, seperti lukisan. Sooo gorgeous!!! 4 thumbs up buat Gagas!! :D

Saya suka sama karakternya Sena. Misterius dan penuh teka-teki. Dibalik sikapnya yang ceria di awal pertemuan, ternyata dia menyimpan beban yang sangat-sangat... berat. Hehe. Sena itu, go with the flow tapi juga dengan perhitungan. Sikapnya yang nggak pernah bisa ditebak sukses bikin Aline kalang kabut. Sedangkan karakternya Aline, menurut saya terlalu cengeng dan apatis. 
"Yang percaya diri sedikit kenapa sih?" Dia berbicara lagi tanpa mengalihkan perhatian dari makanannya. "Jangan diem aja kalau dihina kayak gitu. Jangan memendam semuanya dalam hati. Kalau yang ngehina jauh lebih pinter dari kamu sih, mending. Nah dia.... Dia sama sekali nggak punya kelebihan apa-apa, makanya suka nyaingin orang dan ngomong yang enggak-enggak. Kasian."
"Pikiran sempit," sahutnya tajam. "Nggak percaya diri tapi sok kuat. Melankolis tidak pada tempatnya. Suka berjibaku pada hal-hal tidak penting." 
-Sena-

"Kenapa kamu hobi banget sih ngasih kritik ke orang? Gimana dengan diri kamu sendiri?! Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang diri kamu? Aeolus Sena, orang terhebat sejagad... gitu cara kamu ngelihat diri kamu?"
-Aline-

Ceritanya mengalir. Sampai saya nggak sadar udah mau sampai di halaman terakhir. Hehe. Penulis nggak bikin saya bosen dengan banyaknya deskripsi cerita di sana-sini, yang bikin saya nggak pernah melewati satu kalimat pun dari tiap paragrafnya. :) Tapi banyaknya kosakata bahasa perancis yang kadang nggak ada artinya di footnote sepertinya menyusahkan. Karena saya memang malas untuk bolak-balik halaman yang memuat kalimat yang sama dan mencantumkan artinya di footnote.

Overall, novel ini saya suka banget, high recommended untuk yang suka romance, PARIS, dan segala pernak-perniknya.

Cheers,

Lina

2 comments:

Dhieta said...

saya udah beli buku ini awal bulan lalu tapi belum dibaca smpe skarang wkwkwkwk... Jadi ga sabar mau baca :)

Herlina Yuda A said...

Hayoo cepet dibaca.. bagus kok ceritanya. :) saya sampe jatuh cinta sama karakternya sena. ehehee.