Sunday, July 29, 2012

Ayahku (Bukan) Pembohong


Title : Ayahku (Bukan) Pembohong
Author : Tere-Liye
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Pages : 304
Rate : 4/5


Kapan kita terakhir kali memeluk Ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci Ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halam terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui Ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ya, seperti yang tertulis diatas, novel ini menceritakan tentang hubungan Ayah dan anaknya. Begitu eratnya hubungan mereka. Dam hidup sederhana dan dengan didikan yang disiplin dari Ayahnya serta kelembutan sang Ibu. Keluarga mereka adalah keluarga yang dihormati karena kesederhanaannya. Dam menganggap Ayahnya sebagai panutan hidupnya dan idolanya. Dam sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng Ayah. Tanpa berpikir apakah itu benar atau memang hanya dongeng pengantar tidur. 

Ada beberapa dongeng yang diceritakan dalam novel ini. 


Pertama, cerita tentang sang kapten nomor sepuluh yang menjadi idola Dam. Ayah bercerita bahwa saat Ia menempuh pendidikan master hukum nya di luar negeri, saat itulah Ayah bertemu dengan sang Kapten yang masih berumur delapan tahun. Kala itu, sang Kapten bekerja sebagai pengantar sup yang sering dipesan Ayah. Ayahnya bilang, sang Kapten rajin berlatih tetapi hanya dengan menggunakan bola kasti karena tidak mampu membeli bola tendang yang bagus. Kemudian, sang kapten hendak mengikuti seleksi pemain sepak bola. Namun ia ditolak karena tinggi badannya tidak mencukupi standar. Pada akhirnya, Ayahnya Dam lah yang membantu sang Kapten mengikuti seleksi dan masuk klub tersebut.


Cerita Ayah tentang sang Kapten kemudian memotivasi Dam untuk menjadi anggota klub renang terbaik dikotanya walaupun harus bersaing dengan Jarjit yang sangat ia benci karena selalu mencari masalah dengannya. Daya juang Dam sangat besar untuk mencapai cita-citanya dan hidup dalam kesederhanaan seperti sang Kapten. Ia selalu bekerja keras untuk hidupnya, termasuk menjadi loper koran setiap pagi.


Kedua, cerita tentang lembah Bukhara. Lembah Bukhara awalnya adalah tempat yang subur dan lebat dengan hutan. Hingga suatu ketika, salah satu penduduk lembah tersebut menemukan tempat di dekat sungai mengandung banyak emas. Lama-lama, banyak penduduk yang tahu akan keberadaan emas tersebut. Mereka menggali terus menerus dan mengambil sebanyak-banyaknya emas yang ada disana, hingga lembah yang tadinya subur dan hijau menjadi ladang tandus dan air sulit didapat. Kemiskinan dan kelaparan pun terjadi. Banyak terjadi tindak kejahatan. Ketika itu datanglah Amir Khan yang baru pulang dari menuntut ilmu dan mendapati lembah itu menjadi daerah yang menyedihkan dan terisolasi. Beliau perlahan-lahan berusaha mengembalikan keadaan lembah Bukhara dengan menerapkan ilmu yang didapatnya dan mengajak penduduk lembah untuk berhenti mengeruk emas. Ia mengajarkan penduduk lembah cara bercocok tanam dengan baik dan dengan tekhnologi yang maju pada saat itu. Ayah Dam datang ke lembah Bukhara dalam salah satu pengembaraannya dan disambut dengan sangat baik oleh Amir Khan dan dijamu dengan sebutir apel emas yang hanya berbuah satu tahun sekali dan hanya ada satu buah.


Seiring dengan pertumbuhan Dam menjadi dewasa, ia mulai meragukan kebenaran cerita-cerita Ayahnya. Sampai ia menemukan dua buku dongeng di perpustakaan tentang lembah bukhara dan suku penguasa angin yang suka diceritakan Ayahnya. Ia menemukan berbagai pertanyaan yang bermunculan di benaknya yang terasa ganjil untuk diterima logika dan nalarnya. 


Saat Dam hendak menanyakan kebenaran cerita Ayah, ibunya sakit parah. Hingga ia tersadar, apakah cukup ia hidup dengan banyak dipenuhi dongeng yang sulit diterima logika dan nalarnya. Apakah selama ini ibunya hidup bahagia dengan segala kesederhanaan yang selalu Ayah tanamkan dalam keluarga mereka ? Sampai akhirnya ia berhenti mempercayai cerita Ayahnya dan merasa sangat marah. Ia berjanji tidak akan mendidik anak-anaknya dengan cara yang sama seperti Ayah. 


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Novel ini betul-betul menjelaskan kepada saya bahwa bagaimanapun Ayah saya mendidik  saya, itulah cara terbaiknya untuk menjadikan kita yang terbaik. Walaupun orang tua tak selalu benar dan anak tak selalu salah. Tapi, percayalah.. Orang tua hanya ingin yang terbaik untuk kita, untuk kehidupan kita. Bagaimanapun, kita harus menjaga orangtua kita dengan baik. Jangan sampai penyesalan yang pada akhirnya datang saat kita tidak lagi bisa melihat kedua orangtua kita.

Ya, pelajaran sederhana yang terkadang bisa kita sepelekan tanpa sadar. Karena terkadang kita masing-masing merasa paling benar. Begitu banyak pelajaran hidup dalam novel karya Tere Liye ini. 


Salah satu yang membekas di ingatan saya adalah tentang definisi kebahagiaan. 

"Itu pertanyaan terpenting Ayah. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa kita tiba-tiba merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekadar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang bernama hati?...."
Dan jawabannya adalah..
 "......  Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kabahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hatimu dangkal, hati kau keruh berkepanjangan."
"Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air di dalam hati konkret Dam. Aman terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang."
 What a great definiton kan?!! Hehe. Buku ini wajib baca buat semua anak yang cinta orang tua nya. :)) Highly recommended for y'all. Saya rate 4/5 bintang. Really-really like it! Yeah. Dijamin bakalan nemu banyak arti kehidupan di buku ini yang bisa kita coba terapin di kehidupan kita sehari-hari. 


Love,



Linaaa :)

2 comments:

Anonymous said...

Saya baru beberapa hari lalu selesai baca buku ini. Dan nangis pasa baca ending-nya. Pasti nyesel banget si Dam karena menganggap ayahnya bohong T_______T

Herlina Yuda A said...

Nggak sampe ending banyak bagian cerita yang bisa bikin air mata saya meleleh.. Pasti nyesel banget. Kalo saya jadi dia, pasti susah untuk meaafin diri sendiri.. hhe.